Wednesday, 29 November 2017

CINTA SUCI PENJELAJAH BAHARI

Cinta Suci Penjelajah Bahari

Ketika kapal bersandar telah lepas tali pengekang, kulihat seraut wajah polos yang gemulai telah tergurat kesedihan, sehingga pancaran kasih seketika mengerut ngeri, manakala lentik jemari melambai bersambut cerobong asap menjerit selamat tinggal.

Kubentang layar bukanlah karena ingin terbang, namun abdiku sebagai anak negeri kurela pergi asalkan sejengkal bahari tiada tercurangi, kuarungi lautan bukanlah untuk menantang murkanya gelombang, namun untuk senyum bahtera kasih yang abadi, aku rela pedih walau harus terasing keujung negeri.

Sehingga laksana ganasnya hiu pemangsa, kapalku melaju menerkam murka samudra, menerjang badai mencakar gelombang dan membenam resah membara, manakala api rindu tiada henti membakar jiwa.

Karena do'amu mengalir diantara hembusan angin, yang menyejuk hati gulana disepi bahari , sayangmu bercahaya diantara bintang bintang yang bermanja dilingkar bulan penuh kerinduan dan cintamu telah menjadi harum dilentur taman biru samudra hatiku.

Namun apalah daya manakala hati perkasa dilanda gulana, bintang berseri membakar naluri, gelombang bersorak congkak terbahak, hanya iringin symponi bahari yang membuai khayalku dilaut mimpi.

Sehingga dibibir malam resahku tiada menimbang kemenangan, hatiku larut didentang serunai samudra biru, hanya paras menggoda secantik purnama yang membalut kebimbangan, manakala dibumi yang lunak hatiku karam dimekarnya bunga karang kerinduan.

Maka janganlah engkau biarkan aku meratap pilu dibawah payung kerinduanku dengan duduk membungkuk memeluk lutut diburitan sepi, sehingga diatas anjungan harapan yang tinggi namun engkau biarkan cintaku patah kemudi.

Karena hanya tawamu mengubur sepiku, karena hanya senyummu menghempas pahitku, sehingga pesonamu laksana hujan salju dimusim dingin, yang membuatku tiada henti menggigil dan menjadi hangat manakala diparas imajinasi engkau memelukku dan ditubuh kita menyatukan rindu.

Duhai sayang?...
Walau seribu dermaga dapat kusinggah dan berjuta paras molek mempesona datang menggoda, niscaya cintaku tiadalah akan terpedaya, karena paduan kasihku telah bersemi dan tiada akan menjadi gugur, walau berjuta musim akan berganti.

Sehingga walaupun kita lama tiada berdamping, niscaya kesetiaan cintaku akanlah slalu bersanding, karena engkaulah dermaga, pelabuhan hatiku bersandar asmara, karena engkaulah navigasi penuntun arahku dalam meniti luasnya samudra kasih.

Karena bagaimana mungkin aku bisa hidup jauh darimu, sedang disetiap hentakan haluan yang mencakar gelombang, hanyalah rupamu yang terbayang dalam inggatan, sehingga sepanjang waktu yang aku lalui, niscaya tiada sedetikpun yang akan mengembara dari hatimu.

Maka selamilah hatiku lebih dalam, niscaya tiada akan engkau temukan keraguan atas cintaku, karena aku bukanlah perompak yang berhati laknat, yang akan memperdaya hatimu dengan muslihat, yang ingin membuai lelapmu dengan indahnya cinta sesaat.

Namun bila suatu ketika kulempar jangkar diantara pekikan camar yang bersahutan dan kulihat parasmu diantara ikan ikan yang berenang dilenturnya terumbu karang, niscaya tiada kutemukan surga yang lebih indah, selain kilau permata dari senyummu duhai bidadariku tercinta.

Ya allah...
Biarlah aku menjadi raja kecil penguasa bahtera asalkan riuh gelombang dari cahaya hatiku dapat bersorak dan bertepuk tangan dengan gembira dari pada engkau jadikan aku seorang raja yang bertahta diatas singgasana yang indah, namun berenang diatas samudra airmata hambanya.

Karena bila pada suatu ketika langit tiada menjadi ramah dan lautanpun menjadi murka dengan semua penghuninya, sehingga istana terapung hancur tergulung dan aku menjadi bangkai terkubur berpusara karang, niscaya cinta yang bernaung dibawah rindho dan keikhlasan akanlah slalu berdiri diatas anjungan kesetiaan, sampai tuhan mengunci jalan hidup kita untuk sama tersenyum dimegahnya kabin surga yang
- D A M A I -

Thursday, 9 November 2017

BUAH DARI CINTAKU

Tiada hasratku untuk merantai akan kebebasan yang engkau inginkan, bukan pula membatasi dirimu untuk berkawan, karena masa muda bukanlah hanya untuk mencari senang, yang hanya berfoya dan tertawa sampai tiba ujung malam.

Busungkan dadamu, hingga bila ada badai yang menerpa, engkau tiada terhanyut dalam derita.
Teguhkan imanmu, hingga langit yang engkau pijak, tiada membuatmu melayang dalam kesombongan, karena ada harapan yang akan éngkau gapai, harapan yang teramat suci untuk dirimu, keluargamu dan juga negaramu.

Gapailah harapku setinggi citamu, dan janganlah gugur sebelum waktu. Mungkin raga ini akan sangatlah letih, namun jangan biarkan jiwaku menjadi perih, karena kelak kau akan berpijak dengan kakimu sendiri, namun segala do'a dan harapku, akan slalu mengiring langkahmu, dalam mendaki tangga peruntunganmu.

Aku tiada berharap akan segala balasan, namun senyumanmu akanlah menjadi kebanggaan, kini ragaku akan menyusut dan rapuh, namun jangan kau buat harapanku runtuh.

Maafkan bila disepanjang usia, aku tiada dapat membuatmu menjadi sempurna. Namun raga dan jiwa tiada akan pernah lelah, menjadi payung untuk teduhmu, dari teriknya cahaya, yang akan membakar peruntungan hidupmu didunia.

Engkaulah belahan dari jiwa, yang menjadi buah dari sucinya cinta, hingga aku dapat merasa, dengan apa yang bergejolak didada, dan janganlah kau simpan derita, bila tiada ingin aku menitikkan

- A I R M A T A -

Tuesday, 24 October 2017

CINTAKU TERBAKAR DIDERASNYA HUJAN KERINDUAN

Ketika perasaan sayang, telah berayun dibeningnya ingatan, dari kenangan masa lalu yang masih disini, manakala engkau membawaku ketaman indah untuk bermesra diharumnya kelopak bunga, hingga datang tepukan sayap dari binatang malam yang mengusik lamunan, dan seketika sirna bersama datangnya senyum sang fajar.

Sehelai daun kerinduan telah melayang jatuh dipangkuan, melepas terik dan mengikis rindang kedukaan, dan bunga bungapun bergugur, manakala dimusim semi yang indah, seketika cintamu hilang aroma.

Adakah kiranya seseorang telah mencuri hatimu, dan dengan tiada menimbang, engkau tega mengunci hati pada cintaku yang tiada batas menyayang, hingga beningnya cintamu telah menjadi keruh, dan tiada lagi bersandar pada hatiku yang terlalu tinggi menyayang.

Begitu mudahkah hatimu terpedaya, terperosok dan terjatuh dilembah nissta, sehingga dilidah neraka yang menyala, telah menjadi sebuah pesta untuk tempatmu bermanja, manakala bualan berbisa engkau jadikan sebuah ilham, untuk indahmu dalam berkasih sayang.

Entah adakah cinta ini suatu kesalahan?, sehinga penderitaan begitu panjang untuk aku rasakan, sedang disetiap gelembung merah yang mengalir didalam darah, masihlah menggumpal kasih sayang yang tiada pernah pecah.

Karena walaupun kini jarak telah memisahkan jalanku, namun aku telah kehilangan hati dan jiwa, sehingga gelisahku tiada mampu bersandar, manakala hatiku terguncang diterpa hembusan angin kerinduan.

Maka tiada pantaskah aku menjadi serakah?, manakala hatiku telah menjadi milikmu seutuhnya, karena walaupun dimimpi yang indah aku terluka, namun kerisuaan hatiku seketika sirna, manakala dikeruhnya telaga jiwa, engkau percikan tinta emas yang menyala.

karena dikedua telapak tanganku, telah tertulis garis cinta untukmu, dan seamanya akan menjadi keabadian, sehingga walaupun begtu banyak penderitaan yang akan menghadang, niscaya cinta untukmu tiada akan pernah berkurang.

karena cintaku bukanlah sebakul jagung pengumpan burung, ataupun sekeranjang gandum yang berat terpikul, namun selingkar tasbih yang menyejuk hati, Yang tiada akan sirna walau berjuta musim akan berganti.

Maka apalah guna aku bersenang dijernih sungai, apabila engkau tiada besertaku mengarunginya. Karena walaupun aku tergelincir dari jembatan cintamu yang rapuh, namun semua itu tiadalah akan meruntuhkan kesetiaanku.

Bahkan ketika engkau jauhpun, hatiku tiada dapat melupakan, karena cintamu telah hidup dalam diriku, dan tiada akan kubiarkan cinta itu menjadi layu, walau sesungguhnya ragaku terlalu rapuh, untuk dapat membuatmu tersenyum.

Maka biarlah aku menjadi rahasia dalam hidupmu, rahasia yang tiada pernah terkunci disetiap mimpi, rahasia yang slalu terbuka untuk sebuah pengharapan, sampai takdir menuntun jalan cinta kita, untuk sama tersenyum disurganya tuhan.

Karena aku tiada pernah tau, sampai kapan perjalanan cintaku akan berakhir. Entah dapatkah kita slalu melaju dalam satu perahu, ataupun terkunci sampai terhenti detak nadi, namun untuk melihatmu slalu tersenyum, niscaya aku relakan selamanaya airmataku mengalir.

Namun apabila malaikat telah menyirami hatimu dengan cahaya, dan tuhanpun telah menuntun jalan nasibku untukmu, niscaya tiadalah aku mampu menutupi kegembiraan, manakala cintamu bersanding dalam dekapan.

Ya allah.
Entah rahasia apa yang engkau sembunyikan, manakala dibawah teriknya cahayamu, namun engkau gelapkan jalanku, sehingga laksana melangkah diatas bara, hatiku hangus binasa, manakala kesucian cintanya telah menjadi harum diatas abu
- P E N D E R I T A A N K U -