Saturday, 17 February 2018

SELALAMAT jALAN PAPA

Ketika detak nadi tiada lagi berpacu, terhenti aliran darah, terkubur harapan jiwa, hanya hembusan dingin dari raga terbaring, yang terbujur lemah dengan tiada lagi mampu berkata.

Mataku belumlah puas menyinta, jiwaku belumlah puas menyayang, namun mengapa dengan tiada mengucap sepatah kata diriku engkau tinggalkan, sehingga dimusim dingin yang tiada bersalju, kiranya telah membuat jiwaku terlelap dalam impian semu.

Karena walaupun aku hanya berada dibumi kecil dari kehidupanmu, kiranya dengan cahaya cintamu telah menerangi pekatnya jalan hidupku, sehingga barulah kini aku sadari, bahwa sesungguhnya sayangmu bukanlah seonggok debu yang hanya mengotori sayap sayap kasih yang engkau singgahi, namun kiranya sebuah kilau permata yang slalu menerang disetiap insan yang redup akan kasih sayang.

Papa..
Bukan aku tiada melihat dikala engkau terjaga sebelum ayam jantan terbahak, bukan pula aku tiada mendengar dikala desah keluhmu yang menahan pegal melemah tulang, namun apalah dayaku yang telah kalah oleh semangatmu, yang tiada ingin terdiam untuk melihat lelapku banjir senyuman.

Karena engkaulah maha guru yang telah mengajariku banyak ilmu, yang telah membuatku tegar dari setiap tamparan yang menerpa kehidupan, sehingga manalah mungkin aku terlelap dengan mantra keindahan, apabila tangan lembutmu tiada lagi memanja diriku dengan belaian.

Papa..
Kusebut namamu disetiap bait do’aku, kurenung wajahmu disetiap senja menjemput malamku, sehingga walaupun kini diriku engkau tinggalkan namun nyatanya jejak sayangmu terlalu berharga untuk terlupakan.

Kini hanya gambar usang yang indah terbingkai, yang slalu mengingatkan pada sebuah kenangan, manakala disaat terakhir engkau memanja diriku dengan kasih sayang dan seketika menghilang dikala alam mulai ramai.

Entah bumi yang mana harus aku jejaki, manakala langit sayangmu tiada lagi memayungi, sedang tanpamu hidupku laksana benang kusut yng bersimpul tiada berujung, kujalani hariku dengan setumpuk rindu yang menggunung.

Sehingga tiada lagi rangkaian indah yang dapat melerai lelah, tiada lagi belaian mesra yang membuat tidurku terlena, hanya puing puing penyesalan dari noktah hati yang terkadang bersimpang, yang karena serakah akan sayang kiranya jiwaku terlarut dalam kedukaan.

Karena tiada segunung api yang dapat memberiku kehangatan, tiada selaksa lembah yang mampu memeberikanku kesejukan, namun selembar pelepah dari keridhoan sayangmulah yang membuat hatiku tentram.

Papa..
Kini engkau telah berpulang, berhangat dibumi yang merah dengan senyuma, kiranya hanya do’a do’a kebaikan yang mampu aku panjatkan, untuk membuatmu sklalu tersenyum disurganya tuhan.

Maafkan aku papa yang tiada mampu menjadi penyangga disaat engkau menderita, maafkan aku papa yang tiada mampu membuat mimpi mimpimu menjadi sempurna, maafkan aku papa yang tiada mampu membuatmu tersenyum sampai usiamu menggunung.

Ya allah..
Mengapa engkau ciptakan duka pada hatiku yang terlalu besar mencinta, sehingga lemah lunglai hatiku terkapar, mengais rindu yang tiada mampu terwujudkan.

Duhai papa..
Walau jalan yang engkau lalui begitu singkat, namun cinta untukmu niscaya tiada akan pernah berkarat, karena engkaulah persembahan cinta yang luar biasa, yang tiada siapapun dapat menggantikannya, sehingga sudah sepantasnya bila surga menjadi rumah kedua untuk tempatmu
- B E R S I N G G A H  -

I love you papa....

Tuesday, 16 January 2018

SEREKAH MAWAR DALAM PELUKAN

Ketika angin malam berbisik, rebahku tiada menimang ketenangan, hanya resah hati yang membara, mengusik jiwa yang terbakar gelora, dari kenangan masa silam yang masih terbayang dalam ingatan, namun tersisir perih oleh takdir mimpi yang bersimpuh dipersimpangan kasih.

Maka bukanlah karena ketidak berdayaan, lalu hati yang lemah meronta dan mengais kasih sayang, ataupun gejolak muda remaja yang ingin merobek mencakar bahtera, namun keperkasaan cintalah yang kiranya telah meruntuhkan dinding kasih, hingga jendela hati yang terkunci, kiranya telah poranda diterpa badai asmara.

Karena walaupun kini telah kubuat dunia baru dalam kehidupanku, namun nyatanya tiada mudah bagiku menyembunyikan airmata, manakala dihening malam, selaksa impian telah bersimpuh ditelapak kerinduan, sehingga surga bahtera yang tergenggam, kiranya telah menjadi bara neraka yang membakar.

Maka pantaskah langit cintaku bersorak, disaat bumi kasih yang terpijak telah mengubur asa yang mengangkasa, sedang diredup rembulan hatiku terbuai oleh mesranya senyum sang bintang atau pantaskah purnama sayangku terbahak, sedang istana indah yang terimpikan kiranya telah menjadi dinding penghalang untuk kita berkasih sayang.

Duhai sayang.
Bila saja disaat itu engkau datang dalam keresahanku, niscaya tiadalah mungkin hatiku berpaling dengan cinta yang lain, sedang bualan sayang yang engkau janjikan, kiranya tiada jua menimbang kerinduanku pada kemenangan.

Karena apalah arti dari sebuah ucapan sayang, bila hanya untuk membuat hatiku terbang, sedang sayap dari kupu kupu cintamu, hanyalah untuk singgah dan bermesra pada setiap mekarnya klopak bunga.

Tiadakah engkau merasakan, bahwa begitu banyak penderitaan yang aku sembunyikan, manakala dipelukan malam, engkau rengkuh diriku dengan kerinduan, sehingga masa indah yang telah terhapus dan terlupakan, kiranya harus kembali bersandar pada jiwa yang kering akan kasih sayang.

Karena walaupun mawar putih yang telah terjatuh ditelaga cinta yang jernih, kiranya tiada akan menjadi layu, walau berabad penderitaan akan menguji kesetiaan, sehingga tiadalah mungkin aku dapat meronta, manakala pesona cintamu yang laksana cakar tarantula mencakar mangsa, namun nyatanya menitikkan racun berbisa yang indah.

Maka tanyakan pada hati kecilmu, masih adakan dermaga rindu untuk tempat cintaku berlabuh, sehingga pancaran kasih yang redup temaram, akanlah menjadi cemerlang laksana pesta bintang dikegelapan.

Karena bila tuhan telah mengikat sutera cinta untuk kita, niscaya siapun tiadalah akan sanggup melepaskannya, sehingga kesucian cinta yang telah tumbuh didasar hati, tiadalah akan menjadi keramau, walaupun cinta kita tiada sepersandingan.

Maka datanglah engkau kedalam kepelukan, niscaya engkau akan temukan jawaban atas keraguan, karena walaupun asmaraku meniti dijembatan cintamu yang rapuh, namun kiranya tiada akan membuat genggaman cintaku terjatuh.

Duhai Sayang?.
Kini ladang impianku telah basah oleh hujan rindu yang menggelora, manakala serekah mawar yang rebah layu kini telah kembali bermekar ditaman jiwa, sehingga tiada hati menjadi kesusahan disaat senyum sibunga mawar telah kembali dalam pelukan.

Maka janganlah engkau membawaku melangkah diantara hamparan bunga namun engkau membiarkan hatiku berduka, karena sesungguhnya engkau bukanlah cinta yang terlahir dari mimpi, yang membuatku terjaga, manakala terdengar ringkik kereta menjerit lalu menghentak lamunan diderap malam.

Ya Tuhan.
Mengapa engkau menuntun arah cintaku pada jalan yang bersimpang, sehingga serekah mawar yang telah harum tergenggam, kiranya harus jatuh terapung diatas samudra penantian.

Maka bangunkanlah aku, dari mimpi indah yang akan membunuhku, sehingga jerat tarantula dari cintanya tiada akan meruntuhkan dinding kesetiaan yang telah tergapai atau biarkan aku terlelap dan terbuai dialam khayal, manakala senandung pasir telah mengukir senyumku dipesisir, namun nyatanya mimpiku terkubur  diujung
- T A K D I R -

Wednesday, 29 November 2017

CINTA SUCI PENJELAJAH BAHARI

Cinta Suci Penjelajah Bahari

Ketika kapal bersandar telah lepas tali pengekang, kulihat seraut wajah polos yang gemulai telah tergurat kesedihan, sehingga pancaran kasih seketika mengerut ngeri, manakala lentik jemari melambai bersambut cerobong asap menjerit selamat tinggal.

Kubentang layar bukanlah karena ingin terbang, namun abdiku sebagai anak negeri kurela pergi asalkan sejengkal bahari tiada tercurangi, kuarungi lautan bukanlah untuk menantang murkanya gelombang, namun untuk senyum bahtera kasih yang abadi, aku rela pedih walau harus terasing keujung negeri.

Sehingga laksana ganasnya hiu pemangsa, kapalku melaju menerkam murka samudra, menerjang badai mencakar gelombang dan membenam resah membara, manakala api rindu tiada henti membakar jiwa.

Karena do'amu mengalir diantara hembusan angin, yang menyejuk hati gulana disepi bahari , sayangmu bercahaya diantara bintang bintang yang bermanja dilingkar bulan penuh kerinduan dan cintamu telah menjadi harum dilentur taman biru samudra hatiku.

Namun apalah daya manakala hati perkasa dilanda gulana, bintang berseri membakar naluri, gelombang bersorak congkak terbahak, hanya iringin symponi bahari yang membuai khayalku dilaut mimpi.

Sehingga dibibir malam resahku tiada menimbang kemenangan, hatiku larut didentang serunai samudra biru, hanya paras menggoda secantik purnama yang membalut kebimbangan, manakala dibumi yang lunak hatiku karam dimekarnya bunga karang kerinduan.

Maka janganlah engkau biarkan aku meratap pilu dibawah payung kerinduanku dengan duduk membungkuk memeluk lutut diburitan sepi, sehingga diatas anjungan harapan yang tinggi namun engkau biarkan cintaku patah kemudi.

Karena hanya tawamu mengubur sepiku, karena hanya senyummu menghempas pahitku, sehingga pesonamu laksana hujan salju dimusim dingin, yang membuatku tiada henti menggigil dan menjadi hangat manakala diparas imajinasi engkau memelukku dan ditubuh kita menyatukan rindu.

Duhai sayang?...
Walau seribu dermaga dapat kusinggah dan berjuta paras molek mempesona datang menggoda, niscaya cintaku tiadalah akan terpedaya, karena paduan kasihku telah bersemi dan tiada akan menjadi gugur, walau berjuta musim akan berganti.

Sehingga walaupun kita lama tiada berdamping, niscaya kesetiaan cintaku akanlah slalu bersanding, karena engkaulah dermaga, pelabuhan hatiku bersandar asmara, karena engkaulah navigasi penuntun arahku dalam meniti luasnya samudra kasih.

Karena bagaimana mungkin aku bisa hidup jauh darimu, sedang disetiap hentakan haluan yang mencakar gelombang, hanyalah rupamu yang terbayang dalam inggatan, sehingga sepanjang waktu yang aku lalui, niscaya tiada sedetikpun yang akan mengembara dari hatimu.

Maka selamilah hatiku lebih dalam, niscaya tiada akan engkau temukan keraguan atas cintaku, karena aku bukanlah perompak yang berhati laknat, yang akan memperdaya hatimu dengan muslihat, yang ingin membuai lelapmu dengan indahnya cinta sesaat.

Namun bila suatu ketika kulempar jangkar diantara pekikan camar yang bersahutan dan kulihat parasmu diantara ikan ikan yang berenang dilenturnya terumbu karang, niscaya tiada kutemukan surga yang lebih indah, selain kilau permata dari senyummu duhai bidadariku tercinta.

Ya allah...
Biarlah aku menjadi raja kecil penguasa bahtera asalkan riuh gelombang dari cahaya hatiku dapat bersorak dan bertepuk tangan dengan gembira dari pada engkau jadikan aku seorang raja yang bertahta diatas singgasana yang indah, namun berenang diatas samudra airmata hambanya.

Karena bila pada suatu ketika langit tiada menjadi ramah dan lautanpun menjadi murka dengan semua penghuninya, sehingga istana terapung hancur tergulung dan aku menjadi bangkai terkubur berpusara karang, niscaya cinta yang bernaung dibawah rindho dan keikhlasan akanlah slalu berdiri diatas anjungan kesetiaan, sampai tuhan mengunci jalan hidup kita untuk sama tersenyum dimegahnya kabin surga yang
- D A M A I -

Thursday, 9 November 2017

BUAH DARI CINTAKU

Tiada hasratku untuk merantai akan kebebasan yang engkau inginkan, bukan pula membatasi dirimu untuk berkawan, karena masa muda bukanlah hanya untuk mencari senang, yang hanya berfoya dan tertawa sampai tiba ujung malam.

Busungkan dadamu, hingga bila ada badai yang menerpa, engkau tiada terhanyut dalam derita.
Teguhkan imanmu, hingga langit yang engkau pijak, tiada membuatmu melayang dalam kesombongan, karena ada harapan yang akan éngkau gapai, harapan yang teramat suci untuk dirimu, keluargamu dan juga negaramu.

Gapailah harapku setinggi citamu, dan janganlah gugur sebelum waktu. Mungkin raga ini akan sangatlah letih, namun jangan biarkan jiwaku menjadi perih, karena kelak kau akan berpijak dengan kakimu sendiri, namun segala do'a dan harapku, akan slalu mengiring langkahmu, dalam mendaki tangga peruntunganmu.

Aku tiada berharap akan segala balasan, namun senyumanmu akanlah menjadi kebanggaan, kini ragaku akan menyusut dan rapuh, namun jangan kau buat harapanku runtuh.

Maafkan bila disepanjang usia, aku tiada dapat membuatmu menjadi sempurna. Namun raga dan jiwa tiada akan pernah lelah, menjadi payung untuk teduhmu, dari teriknya cahaya, yang akan membakar peruntungan hidupmu didunia.

Engkaulah belahan dari jiwa, yang menjadi buah dari sucinya cinta, hingga aku dapat merasa, dengan apa yang bergejolak didada, dan janganlah kau simpan derita, bila tiada ingin aku menitikkan


- A I R M A T A -

Tuesday, 24 October 2017

CINTAKU TERBAKAR DIDERASNYA HUJAN KERINDUAN

Ketika perasaan sayang, telah berayun dibeningnya ingatan, dari kenangan masa lalu yang masih disini, manakala engkau membawaku ketaman indah untuk bermesra diharumnya kelopak bunga, hingga datang tepukan sayap dari binatang malam yang mengusik lamunan, dan seketika sirna bersama datangnya senyum sang fajar.

Sehelai daun kerinduan telah melayang jatuh dipangkuan, melepas terik dan mengikis rindang kedukaan, dan bunga bungapun bergugur, manakala dimusim semi yang indah, seketika cintamu hilang aroma.


Adakah kiranya seseorang telah mencuri hatimu, dan dengan tiada menimbang, engkau tega mengunci hati pada cintaku yang tiada batas menyayang, hingga beningnya cintamu telah menjadi keruh, dan tiada lagi bersandar pada hatiku yang terlalu tinggi menyayang.


Begitu mudahkah hatimu terpedaya, terperosok dan terjatuh dilembah nissta, sehingga dilidah neraka yang menyala, telah menjadi sebuah pesta untuk tempatmu bermanja, manakala bualan berbisa engkau jadikan sebuah ilham, untuk indahmu dalam berkasih sayang.


Entah adakah cinta ini suatu kesalahan?, sehinga penderitaan begitu panjang untuk aku rasakan, sedang disetiap gelembung merah yang mengalir didalam darah, masihlah menggumpal kasih sayang yang tiada pernah pecah.


Karena walaupun kini jarak telah memisahkan jalanku, namun aku telah kehilangan hati dan jiwa, sehingga gelisahku tiada mampu bersandar, manakala hatiku terguncang diterpa hembusan angin kerinduan.


Maka tiada pantaskah aku menjadi serakah?, manakala hatiku telah menjadi milikmu seutuhnya, karena walaupun dimimpi yang indah aku terluka, namun kerisuaan hatiku seketika sirna, manakala dikeruhnya telaga jiwa, engkau percikan tinta emas yang menyala.


karena dikedua telapak tanganku, telah tertulis garis cinta untukmu, dan seamanya akan menjadi keabadian, sehingga walaupun begtu banyak penderitaan yang akan menghadang, niscaya cinta untukmu tiada akan pernah berkurang.


karena cintaku bukanlah sebakul jagung pengumpan burung, ataupun sekeranjang gandum yang berat terpikul, namun selingkar tasbih yang menyejuk hati, Yang tiada akan sirna walau berjuta musim akan berganti.


Maka apalah guna aku bersenang dijernih sungai, apabila engkau tiada besertaku mengarunginya. Karena walaupun aku tergelincir dari jembatan cintamu yang rapuh, namun semua itu tiadalah akan meruntuhkan kesetiaanku.


Bahkan ketika engkau jauhpun, hatiku tiada dapat melupakan, karena cintamu telah hidup dalam diriku, dan tiada akan kubiarkan cinta itu menjadi layu, walau sesungguhnya ragaku terlalu rapuh, untuk dapat membuatmu tersenyum.


Maka biarlah aku menjadi rahasia dalam hidupmu, rahasia yang tiada pernah terkunci disetiap mimpi, rahasia yang slalu terbuka untuk sebuah pengharapan, sampai takdir menuntun jalan cinta kita, untuk sama tersenyum disurganya tuhan.


Karena aku tiada pernah tau, sampai kapan perjalanan cintaku akan berakhir. Entah dapatkah kita slalu melaju dalam satu perahu, ataupun terkunci sampai terhenti detak nadi, namun untuk melihatmu slalu tersenyum, niscaya aku relakan selamanaya airmataku mengalir.


Namun apabila malaikat telah menyirami hatimu dengan cahaya, dan tuhanpun telah menuntun jalan nasibku untukmu, niscaya tiadalah aku mampu menutupi kegembiraan, manakala cintamu bersanding dalam dekapan.


Ya allah.

Entah rahasia apa yang engkau sembunyikan, manakala dibawah teriknya cahayamu, namun engkau gelapkan jalanku, sehingga laksana melangkah diatas bara, hatiku hangus binasa, manakala kesucian cintanya telah menjadi harum diatas abu
- P E N D E R I T A A N K U -

Saturday, 16 September 2017

CINTAKU TIADA BERSULANG DALAM KEGELAPAN

Ketika serunai malam mendesau, mantramu mengalir dihembusan angin, menggetar jiwa yang terpasung dilembah nestapa, menghangus cinta dari masa indah yang berakhir seketika.
Entah wajah siapa?, yang telah memalingkan hatimu, sehingga engkau begitu percaya akan pemungkir yang berucap janji, sedang cintaku disini masihlah kokoh berdiri.
Haruskah kuremas matahari, hingga engkau mengerti betapa hatiku terbakar manakala cintamu pergi. ataukah kupetik rembulan untuk sebuah pembuktian, hingga engkau percaya bahwa cintaku teramat dalam.
Adakah perangkap yang tiada aku sadari?, sehingga engkau begitu tega memperdaya hati, lalu hanya karena curiga, hingga batu yang tersentuh menjadi bara.
Entah sampai kapan kedukaan akan bertukar kesenangan?, Sedang cinta yang engkau janjikan hanyalah airmata yang mengalir laksana derasnya hujan. Mungkinkah kebahagiaan kembali dalam pelukan?, sedang dilembah yang hijau aku terdapar dalam kesedihan.
Maka selamilah hatiku lebih dalam, niscaya akan engkau temukan kebenaran dari cinta yang aku janjikan. Karena sesungguhnya pancaran kasihku masihlah gemerlap, walau cintaku tiada lagi engkau inginkan.
Karena bukanlah harta dunia yang membuat dirimu menjadi berharga, namun kilau permata dari cahaya hatimulah, yang telah membuatku jatuh cinta.
Maka biarlah fitnah dah hasutan, menjadi raja menguji kesetiaan, asalkan puspa cinta yang telah menghantar keharuman tiadalah terhancurkan, walau tinta hitam melukis kegelapan.
Duhai sayang?. Tiada inginkah engkau melihatku tersenyum, seperti berjuta kumbang yang begitu riang menyambut datangnya musim semi. Dan kubiarkan engkau menjadi lebah yang jatuh cinta, untuk bermesra pada harumnya kelopak bunga, dari tangkai kasihku yang telah menjadi segar, terpupuk oleh sentuhan sayangmu.
Karena hanya cahaya matamu, yang dapat menghibur sepiku. Karena hanya senyum manismu, yang dapat menghapus kepedihanku, sehingga laksana di 15 pancaran purnama, pesona cintamu telah menerangi jiwaku yang gulita.
Maka janganlah engkau runtuhkan tangga menuju surga, apabila tiada ingin melihatku terjatuh dilembah nestapa, karena sesungguhnya engkaulah penyangga pada kokohnya pagar kesetiaan, dari sebuah cinta yang bernaung dibawah ridhonya tuhan.
Karena walau rambut harum panjang terurai, menjadi lusuh tercakar kotornya debu, namun hati yang bening akan kasih sayang, tiadalah akan menjadi kemarau, walau berabad tuhan menguji kesetiaan.
Ya allah, kembalikanlah kebahagiaanku, Janganlah engkau rampas ia dariku, karena walaupun seribu wajah dari tamparan dusta telah melukai jiwa, namun apabila bayangnya datang tersenyum, niscaya telah kutemukan jawaban atas keraguan.
Karena sesungguhnya cintanya adalah madu, yang tiada akan membuat bunga terluka menjadi patah ataupun layu, hingga dengan cintanya tiada lembaran hitam yang akan bersulang dalam kegelapan..


Karena cinta yang hinggap diranting hatinya, bukanlah karena haus ataupun lapar akan kasih sayang, namun aku telah melihat kemuliaan pada dirinya, yang kelak dapat penuntun jalanku, untuk dapat bermanja ditaman surga yang
– I N D A H –

Monday, 14 August 2017

KUKIRA ENGKAU SETIA

Ketika dibelantara kota hatiku sepi, aku tersesat dan tertatih pada jalan yang tiada asing kulalui, manakala jiwaku perlahan pergi, menanti dan mencari, akan cintamu yang tiada lagi menepi.
Tiada pernah terlintas dalam benakku, engkau akan memperdaya cintaku, karena semula kukira, hanya aku yang dapat membuatmu tersenyum, namun nyatanya, hanya gumpalan sendu yang tinggi menggunung.
Engkau mengambil harum dari napasku, namun mengapa kemudian cintamu berlalu. Sehingga laksana kapal nelayan yang diguncang badai, hatiku terombang ambing dalam lautan kesedihan.
Entah siapa sebenarnya yang engkau sukai?, sedang disenyap malampun engkau biarkan aku sendiri. Entah kebahagiaan apa yang engkau inginkan?, sedang rembulan ditangan, engkau remas dan engkau campakan.
Engkau yang menuangkan aku segelas anggur kenikmatan, namun mengapa belumlah habis terminum lalu engkau tumpahkan?, sehingga aku yang telah terjatuh dalam pangkuan hatimu. Kiranya harus menjadi debu dari begitu banyaknya cintamu.
Kau sanggulkan aku bunga, namun mengapa kau balurkan wajahku dengan airmata?, sehingga dengan tiada asap hatiku terbakar, manakala diruncing rembulan, cintamu tiada berpetualang dengan keindahan.
Entah muslihat apa yang mengalir dalam benakmu, sehingga engkau berlaku keji menista cintaku. sehingga kerajaan kecil yang aku impikan, kiranya hanya dongeng indah yang melelap sikecil dikala malam.
Duhai sayang?, Janganlah terus mengintimidasi hati, karena aku tiada meminta sedekah dari banyak cinta yang engkau punya, karena sesungguhnya cinta yang bernilai, tiadalah akan engkau dapatkan, pada eloknya rupa, yang slalu membuatmu terbang akan sanjungan.
Entah hidupku untuk siapa, apabila legenda cintamu tiada membawa sertaku didalamnya?, karena walau tiada setetes kasih sayangmu mengalir, namun yakinlah bahwa cinta untukmu tiada akan pernah kering.
Maka peluklah diriku, dan ambillah hangat dari tubuhku?, niscaya engkau akan percaya, bahwa tiada keraguanku atas cintaku. Karena sesungguhnya, engkau bukanlah bayangan yang terlelap dalam dekapan, yang hanya untuk menepis bisu, manakala hatiku dilanda rindu.
Rasanya tiada mungkin aku melupakan, akan kisah romantis diujung petang. Manakala engkau biarkan payung menguncup dideras hujan, dan sepuluh jari berpaut satu genggaman. Sehingga aku yang begitu dungu akan asmara, kiranya telah menjadi dewasa ,dalam dentang melodymu yang mesra.
Namun mengapa kini, begitu cepat cintamu menua?, sehingga musim semi berlalu dengan tiada aroma bunga. Entah masih adakah harapan untuk cinta berbuah senyuman?, sedang airmata yang tergenggam, adalah perasaan hati yang engkau abaikan.
Entah kemana cintamu berimigrasi?, hingga aku terasing dalam bahtera cintaku yang suci. Sedang bentangan sayang dari sayap elang yang aku banggakan, kiranya hanya cakar terurai yang telah tega memangsa dan melukai hati yang tiada henti mengasihi.
Duhai kasih, haruskah hubungan ini harus berakhir?, sedang untuk cintamu aku terlahir. Haruskah cinta berpusara, sedang cinta untukmu, slalu berpetualang mesra diharum bunga.


Karena sesungguhnya muara kasihku telah bersemi, dan tiada kuingin mengering lagi, maka janganlah kau tampakkan wajah pengecut, karena walaupun aku terbiasa kehilangan dari apa yang aku inginkan, namun cinta untukmu, niscaya tiada akan pernah
– P A D A M –

Tuesday, 27 June 2017

MELATI YANG TIADA BERSERI

Ketika perahu yang setambang dalam eretan, telah menjadi pecah sebelum ketepian. Sehingga laksana burung2 yang hijrah dikala petang, hatiku melayang mencari singgahan, dari putihnya cintaku yang kini engkau hitamkan.

Semula kusangka cintamu seharum melati, namun ternyata hanya aroma pedih yang meracun hati. Sehingga aku tiada menyadari, bahwa mutiara kasihmu, hanyalah butiran debu yang kotor dan berbau.

Entah salah apa yang telah kulakukan
?, hingga vonis yang begitu berat engkau jatuhkan. Entah dosa apa yang membeban?, hingga murka tuhan begitu berat aku rasakan.

Begitu pandainya matamu menyimpan dusta, begitu manisnya lisanmu bersilat lidah. Sehingga laksana permata yang jatuh berserak diserpihan kaca, aku tiada dapat membeda, bahwa dibalik putihnya cinta, engkau baluri hatiku dengan percikan noda.

Mungkinkah ini sudah menjadi nasib siputik menjadi buah, manakala bergugur sayap sayap klopak diantara bunga. Sehingga aku yang jatuh diperaduan sayangmu, kiranya harus menanggung pilu, dari lincahnya kembara kasihmu.

Sehingga hatiku menyatu dengan penderitaan, jiwaku telah mengembara kepada nikmatnnya kesengsaraan. Manakala kepercayaan yang aku suguhkan, kiranya telah engkau tampar dengan kecurangan.

Kini bergugurlah sudah bunga rindu, mengering berserak diantara debu. Redup sudah cahaya hati, padam dan kelam menghangus naluri. Sehingga laksana berdiri diruncing belati, hatiku merintih direjam siksa duniawi.

Duhai kasih.
Engkau boleh menuai kebencian, sebanyak yang engkau inginkan, ataupun mengunci menutup rapat jendela hati, namun mengapa putihnya cintaku engkau dustai
.

Karena diburitan kasih hatiku merintih, menerjang siang dengan kedukaan, menghempas malam dengan kepiluan. Sehingga laksana berenang diatas bara, hatiku merana terhempas badai duka.

Duhai sayang.
Tiada cukupkah kasih sayang yang kuberikan, hingga engkau berlaku keji dengan membagi kasih kelain orang. Sedang disetiap desahan angin malam, kutadahkan pengharapan, yang hanya untuk bersamamu sampai dipenghujung kehidupan.

Kini usahlah engkau kembali, karena hatiku telah terkunci oleh rantai benci. Manakala dalam pelukan harapan cintaku telah engkau hempaskan, dan biarlah kutempuh jalan lirih, yaitu jalan yang tiada untuk cintamu lagi.

Karena bukanlah cantik yang setinggi langit, ataupun tampan segagah pangeran, yang akan membuat hati kita menjadi tentram.
N
amun kesetiaan dari sebuah kasih sayanglah, kiranya yang slalu aku dambakan.

Namun bila sebelum jasadku berkapas, dibawah sorak rembulan kutemukan kedamaian. Maka bukanlah karena selembar dasi yang telah membuat cintaku pergi, ataupun sehelai sorban yang telah membuat hatiku terbang.

Karena itulah penawar yang diberikan tuhan, akan hidayah yang kupinta ditadahan do'a, agar senyumku yang kerana, kiranya akan kembali mengembang laksana bunga.

Ya allah.
Bebaskan aku dari belenggu pilu, dari cinta yang telah menggores jiwa, dari sayang yang menikam perasaan. Sehingga hatiku yang rapuh, menjadi terbebas dari
- P E N D E R I T A A N -

Monday, 12 June 2017

TITIAN RINDU BINTANG HATIKU

Ketika napas rindu telah mengharum istana qolbu, hanya naluri yang bergejolak dikancah hati, dari sebuah harapan yang terkunci, untuk sama bahagia dalam meniti tangga kasih.

Kusebut namamu disetiap bait do’aku. Kurenung parasmu disetiap jengkal helaan napasku, dan kudekap rindumu dari setiap hentakan aliran darah dalam urat nadiku, karena telah kudengar suara, yang menggema mesra direlung jiwa, yang seakan memanggilku pulang, untuk sebiduk kasih dalam buaian sayang.

Sehingga dengan tiada api hatiku terbakar, oleh bara rindu yang menghangus pikiran. Dengan tiada meminum arak aku telah mabuk, oleh pesona cinta yang engkau suguhkan.

Duhai sayang.
Entah rahasia apa yang tersimpan dalam debaran, sehingga disetiap sudut sepiku, hanya parasmu yang melekat dalam ingatan, sehingga laksana mendulang intan, engkau hiasi kehidupanku dengan berjuta kebahagiaan.

Karena engkaulah kesempurnaan dalam hidupku, cahaya terang disetiap kancahku meniti kehidupan, sehingga walaupun detak nadiku terhenti, niscaya cinta untukmu tiada akan berkurang.
Maka mintalah semua yang engkau inginkan, niscaya nyawapun akan kuberikan, karena sesungguhnya duniaku telah menjadi milikmu, dan hatikupun akan menjadi berduka, manakala cinta kita harus terpisah.

Duhai kasih.
Tiada akan terhenti derap hati, untuk slalu menjelajah bumi kasihmu yang abadi, karena aku mencintaimu, dan mungkin lebih dari yang engkau bayangkan. Sehingga walaupun perahu rindu, telah jauh tergayuh dari dermaga hatimu, namun napasku akanlah slalu menderu laksana derap kuda yang berpacu, yang berlari riang menyusuri bukit rindu. Sehingga tiada mungkin aku rela, bila sehelai rambutmu akan terjatuh, ataupun setetes darah akan mengalir, yang akan membuat hatimu terluka.



Duhai sayang?.
Aku tiada peduli bila lentera langit menjadi padam, asalkan purnama cintamu tiadalah menjadi redup dan temaram. Karena engkualah kekasihku yang menyayangimu tanpa batas, karena engkaulah pujaanku yang mengasihiku tanpa henti, sehingga tiadalah mungkin aku berpaling dari masa yang indah, dengan memberi senyum, kepada cinta yang terlalu asing untukku jelajah.


Maka lihatlah beningnya mataku, yang tiada pernah menyimpan dusta untuk cintamu. Lihatlah ranumnya bibirku, yang telah basah oleh berlembar do’a, dari sebuah pengharapan untuk cinta tiada terpisahkan, dan dengarlah kidungku, yang slalu bersenandung rindu, untuk dapat rebah dan bersimpuh dipangkuan hatimu, karena walaupun seribu kehidupan berulang, niscaya kesucian cintaku hanyalah untukmu seorang.

Dan telah engkau pahami, bahwa kembaraku bukanlah karena tiada menyayangi. Namun untuk sejengkal harapan,
untuk sama bahagia dalam berkasih sayang

Ya tuhan.
Janganlah bangunkan aku dari mimpi indahku, sehingga pertarungan bathinku dikancah rindu, tiada membawa kepedihan pada jalan cintaku, karena cintaku bukanlah kesesatan, dan tiada mungkin akan membawanya kepada cinta yang
– M E N Y A K I T K A N –

Thursday, 11 May 2017

NERAKA CINTA

Ketika telaga kasih tiada lagi menjadi jernih, keruh dan memerah laksana darah. Disaat itulah jiwaku berenang dalam kepedihan, manakala kesucian cinta telah menjadi lemah, tertikam belati dari murka sang pemuja duniawi.

Begitu dahsyatkah lidah berbisa meracuni jiwa, sehingga dibibir rumah tuhanpun aku terbenci dan tercaci.
Sedang purnama diujung pedang masihlah nampak keindahan, walau rembulan penuh telah melayang melintas jauh diterjalnya karang.

Begitu tinggikah menara kebencian, hingga tiada melihat mutiara kasihku yang berkilau dilembah hati yang dalam. Sedangkan bukit asmara yang rindang, tiadalah terpupuk dengan kecurangan.

Mengapa cinta yang suci harus terbenci, terperosok dan jatuh kerimba yang pedih. Sehingga laksana jejak kaki yang perlahan terkikis butiran debu, indahnya cintaku, kiranya hanya menjadi mimpi manis dimalam yang bisu.

Sehingga aku yang tergelincir, terhempas dan terguling dari bukit batu cintamu. Kiranya telah menjadi lemah, manakala putiknya cinta, harus terpangkas disaat menebar harumnya.

Kini entah kemana harus kubersandar, sedang disetiap penjuru tiada kutemukan tangan tuhan, yang dapat menyejuk jiwaku dalam kedamaian, yang dapat memayungiku dari hujan fitnahan.

Ya allah.
Tiada pantaskah hati yang teraniaya rebah bersujud dirumah tuhannya, manakala hati yang terpitnah, telah terasing dari orang orang yang merendahkan, akan arti sebuah kasih sayang.

Karena telah kulihat amarah pada setiap sorot mata yang menista cintaku, yang ingin mempardaya ka
s
ihku. Sehingga laksana bumi tiada berlangit, cintaku menjadi hampa dan tiada bercahaya.

Kini.
Lepaskah sudah tali bersimpul, pengikat hati yang menjalin kasih, manakala seribu kuntum senyum yang telah bermekar ditaman hati, kiranya kini telah menjadi layu, patah tercabik oleh murka sang penjajah cinta.

Duhai sayang.
Aku memang bukanlah malaikat, yang disetiap saat dapat menjaga dan memayungimu dari setiap bala, namun disetiap jengkal dari helaan napasmu, niscaya punggawa langitpun tiadalah yang akan sanggup, membendung hujan rindu dari hatiku.

Karena sesungguhnya cinta untukmu bukanlah suatu kesalahan, yang akan menjadi lapuk karena ketiada berdayaan, dan selamanya senandung cintamu akan slalu berayun dalam hatiku, walaupun engkau tiada menjadi
- M I L I K K U -

Wednesday, 26 April 2017

MULIANYA RENCANA TUHAN

Ketika berjuta lembaran do'a telah berpaut pada suatu keinginan, bergemuruh aliran rindu, menggelegar gelombang sayang dan menghangus serpihan duka, manakala selaras senyum telah menari mesra diujung mata.

Begitu mulianya rencana tuhan, manakala kupijak bumi cintamu sebagai singgahan, sehingga laksana gemericik hentakan gelang kaki, engkau membuat hatiku menari, menerang pelangi dipentas buana hati.

Entah sihir apa yang engkau kemat, sehingga dikala sama menatap, keangkuhanku menjadi luluh dan berkarat, karena hanya cahaya matamu yang dapat menghibur sepiku, karena hanya senyum manismu yang dapat mengubur kepedihanku.

Sehingga aku yang begitu lugu, yang tiada mengenal akan asmara, kiranya kini menjadi seorang pemabuk, hingga tiada dapat membeda antara madu ataupun racun yang engkau suguhkan, yang karena saying
semua menjadi nikmat untuk aku rasakan.

Semula aku tiada percaya, bahwa dengan cinta diriku akan menjadi terpedaya, namun barulah kini aku sadari, bahwa disaat engkau jauh, hatiku sangatlah merindukanmu, hingga begitu banyak kegelisahan, yang telah mengganggu pikiran.

Karena bagiku engkaulah yang teristimewa, yang mampu meruntuh kepingan duka mengubur nestapa, sehingga begitu banyak kesenangan yang aku rasakan, yang tiada mampu terbaca oleh nalar dan pikiran.

Telah kulihat bunga pada bibirmu, sehingga setiap yang engkau kecap, mmenebar keharuman pada djiwaku, mungkinkah aku telah jatuh cinta, atau lebih jauh dari kata cinta, sehingga bila sekejap tiada berjumpa, niscaya hatiku slalu dilanda gelisah.

Duhai penguasa malam.
Entah dengan siapa kutitipkan kabar, agar engkau mengerti akan apa yang sedang aku rasakan, sehingga keriduanku dapatlah terbayar dengan senyuman, sehingga kesucian cintaku tiadalah hangus direbah petang.

Duhai sayang
?
.
Tolong ajari aku untuk mengendalikan rasa rindu, tolong katakan sesuatu, hingga sayap cintaku tiada terbenggu pada jeruji hatimu, karena helaan napasku akan terhenti, manakala indahnya senyummu tiada disini.

Kini teratai cintaku telah basah, tersiram hujan asmara menggelora, gelembung rinduku telah pecah, tertikam oleh dahsyatnya sihir keindahan, sehingga laksana petani yang menari berpesta dipanen raya, dihela napas pedati aku bernyanyi, dan disenyum rembulan kugantung sebuah harapan yang suci, yang akan slalu bersama satu hati, sampai napas ini
- T E R H E N T I -

Saturday, 15 April 2017

ISYARAT CINTA DIMALAM YANG GULITA

Ketika angin malam mendesau lirih. Hatiku menangis dilelap bisu. Jiwaku meratap dipelataran rindu. Hanya tetes embun yang membasah, menitik diputih lembaran hati, dan menoreh tinta rindu pada lukisan paras imajinasiku.

Napas rinduku menderu, mendekap dingin singgasana qalbu. senandung cintaku menggema, menggetar syahdu alam maya. Dan kesedihanku berlalu, manakala kehadiranmu telah mengusik tidurku dimalam
bisu.

Mungkinkah ini sayang
?, atau naluriku yang terlalu jauh berkhayal. Namun sejujurnya harus aku katakana, tiada kebimbangan dalam hatiku, ketika pautan kasih telah bersandar dibahu cintamu. Karena tiada mungkin lelapku menjadi berjaya, manakala indahnya senyummu tiada nampak diujung mata.

Karena hatiku telah mengembara, berlari dan mendaki dipuncak nirwana. Jiwaku terpedaya, terpasung rindu pada cinta diluar logika
. Sehingga laksana sayap kupu kupu yang berterbang menari diantara kuncup bunga yang bermekar, alam mimpiku menjadi indah, tersiram aroma kebahagiaan.

Duhai tamu impian
?
.
Entah pantaskah aku berkata sayang, sedang engkau hanya datang disaat aku terlelap dihening malam. Entah pantaskah aku cemburu?, sedang dikala tiada nampak parasmu, jiwaku laksana hutan pinus yang hangus terbakar, ranting hatiku kering dan berserak diantara debu debu rindu yang berterbang.

Duhai sayang..
Malamku bisu dikala tiada kulihat senyummu. Siangku hampa, manakala tiada kudengar celotehmu yang mesra. Karena eloknya parasmu telah menari dilentik bulu mataku, dan tiadalah akan menjadi sirna, walau sang fajar telah membuatku terjaga.

Sehingga tiadalah mungkin, isyarat cinta kita menjadi kesusahan. Karena cintaku telah bersemedi dihanggar kasih, dari indahnya persembahan cinta, yang membuat alam mimpiku menjadi berbunga.

Karena bila saja malamku tiada berganti siang, niscaya waktu yang bergulir panjang, akanlah kurengkuh mimpiku sampai diujung penghidupan. Sehingga tiada hari indah yang tersisa, untuk cinta kita terajut dalam bahagia.

Duhai sayang.
sesungguhnya cintaku telah bersemedi kepada eloknya parasmu, yang senantiasa bercahaya, menerangi pekatnya alam mimpiku. Sehingga laksana purnama yang bersembunyi dibalik mega, samarnya isyarat cintamu tetaplah indah.

Karena engkaulah tamu impian, pijar cahayaku dilelap malam. Engkaulah tamu yang tiada kuinginkan, namun hatiku sangatlah takut untuk kehilangan. Sehingga laksana perahu yang melaju tanpa layar, jiwaku terombang ambing diterpa gelombang kebimbangan.

Ya allah..
Lindungilah diiriku dari cinta yang membawa petaka, sehingga cinta yang aku impikan, tiadalah menjadi sebuah khayal yang tiada sanggup aku wujudkan. Dan janganlah engkau membuat bumi cintaku menjadi hampa, manakala teratai mimpiku menjadi kering dan tiada
- B E R B U N G A -

Wednesday, 29 March 2017

PATAHAN CINTA YANG MASIH BERBUNGA

Ketika bara cinta telah menyala, membakar naluri, menghangus kesucian janji. Hingga ia tiada peduli akan menara kasih yang menjadi tumbang, terhempas gelombang asmara yang begitu dahsyat menggoda, hingga hanya imajinasi yang menjulang tinggi, dari sebuah khayal yang melukis keindahan dilangit yang temaram.

Semula kukira hatimu telah berpaling, disaat telah kuterima cinta yang lain, namun tiada kusangka, bahwa sesempit apapun waktumu, masih menyisakan ruang teduh untuk diriku.

Berulang kucoba melupakan, membenam semua kenangan, namun hantaran kasih sayangmu, telah jauh merasuk kepalung hati. Sehingga siapapun tiada dapat meruntuhkan, akan menara cinta yang begitu megah terpahat dalam ingatan.

Sehingga jikalau roda waktu dapatlah balik untuk berputar, niscaya tiadalah mungkin aku akan mengulang kesalahan diwaktu yang silam, karena kini barulah aku sadari, bahwa tanpa cintamu,
 hidupku laksana lajunya kapal tanpa kemudi, yang terombang ambing terhempas gelombang dilautan tiada bertepi.

Telah kupahami, bahwa cinta ini laksana bara api
, yang akan menjadi indah, dikala berdamping sayang dengan lilin yang menyala, namun akan menjadi petaka, dikala kita sama menerjang keinginan, yang sesungguhnya sudah terlarang.

Karena siapapun tiada akan tau, dengan siapa kita akan berpasangan, dan siapapun tiada mampu mengelak, akan takdir cinta yang sudah digariskan oleh tuhan, namun sesungguhnya hati yang terlanjur sayang
, tadalah dapat menghapus kenangan, walau akhirnya cinta kita tiada sepersandingan.

Harus aku akui, bahwa aku telah terpedaya oleh cinta, namun aku bukanlah pencari nikmat dunia, yang hanya mencari senang, dikala cinta mengelabukan pikiran.

Karena aku bukanlah saudagar, yang hanya mengambil manis dari sebuah kasih saying.
 Yang akan membiarkanmu menari, dengan gemercik gelang kaki yang pedih. Yang akan melenakanmu dengan hati yang resah gelisah.

Mungkin akulah sidungu, yang terlalu percaya akan cintamu, s
ehingga kisah asmara yang telah basah oleh airmata, tiada mampu terhapuskan, walau lembaran cinta, tiada lagi merangkai kisah yang indah.

Duhai sayang
?..
Cintaku laksana merpati, yang mampu beterbang dengan tinggi, menerjang awan dengan sayap membentang dan menukik diantara perbukitan, namun hatiku tiada dapat lari, dari sebuah singgahan hati, yaitu dirimu yang slalu aku
 - S A Y A N G I -

Thursday, 23 March 2017

CINTA YANG TERLARANG

Mengapa pertarungan bathinku tiada jua terhenti, disaat kudengar berita, bahwa engkau tiada bahagia dalam berkasih. Sedang rajutan sayang yang bersimpul keindahan, kini telah pupus terhunus, oleh runcingnya tombak keangkuhan dari insan yang ditetuakan.

Bukan aku tiada rela, dikala kata sepaham dari tetua telah memecah harapan. Bukan pula aku tiada sudi, untuk melihatmu bahagia dalam berkasih. Namun impian yang terpenggal, telah membuat hatiku terkunci dan terpasung dalam kepedihan.

Maka janganlah engkau menyangka aku tertawa karena bahagia. Janganlah pula engkau mengira, bahwa persandinganmu tiada membuat hatiku terluka. Namun karena cintalah, kurela menelan pahit, walau sesungguhnya hatiku menjerit.


Karena cinta yang terhempas, terinjak injak oleh pangkat dan derajat. Telah membuat hidupku, terpasung lara dilembah nestapa. Sehingga laksana insan yang tiada bernyawa, nalarku mati tiada berjiwa.

Puas sudah aku merana
, terpedaya oleh siksa asmara. Lelah sudah aku menderita, terpasung lara dilembah nestapa. Sehingga laksana hewan air yang diterpa Kemarau, jiwaku menggelepar, meronta mencari keteduhan.

Hariku bergulir panjang, manakala cinta untukmu telah menjadi terlarang
. Namun mengapa eloknya parasmu, senantiasa melekat dalam benakku. Sehingga laksana kerbau yang berkubang dilumpur basah, kedustaan cintamu tetaplah indah.

Duhai sayang
?..
Cukuplah aku yang menelan kepahitan, dari kokohnya kesetiaan yang terhunus oleh penderitaan. Dan kurelakan engkau bersanding kasih dengan cinta yang lain.

Maka terkutuklah pencinta, yang hanya mengambil manis dari hati yang tiada berdaya. Yang berayun dengan senyuman, yang berdendang dengan gemuruh sanjungan. Namun menari pada sebuah hati, yang merintih pada balutan pedih.

Namun mengapa
?..
Disaat telah kuterima cinta yang lain, engkau datang membawa seikat kepedihan, lalu bersandar pada hatiku yang menjadi larut dalam kebimbangan
.

Ingin rasanya kuterjang batas haling, untuk meraih mimpi yang terhempas sebelum pajar. Namun satu hati yang telah menepi, yang mengobat duka dari sayatan hati, dan tiadalah mungkin aku dapat melukai.

Duhai sayang
?.
.
Bukanlah tiada kuingin kisah berulang, bukan pula tiada aku berharap benang kasih terajut sayang. Namun cinta yang terlarang, tiadalah mungkin akan kuterlang, walau cinta yang telah terpahat indah, tiadalah mampu untuk sama kita
- L U P A K A N -

Friday, 24 February 2017

409 - Gugur Bunga Dilereng Gunung Lawu Yang Mempesona

Sungguhlah indah panorama alam, merah temaram disenja yang gemilang, bersuka riang dara ayu dibawah pancuran, membersih badan dicurah grojogan sewu yang sangatlah indah dan menakjubkan.

Inilah lembah misteri yang begitu indah laksana tempat bermandi para bidadari, inilah surganya bumi yang tersembunyi hingga siapapun yang bersinggah pastilah tiada ingin berlalu pergi.

Disini, dilentik jemari kaki dialas gunung lawu aku berdiri, kuikat janji untuk sama sehati, kupahat cinta untuk tiada terpisah dan kusandarkan kasih sayang, pada dirimu duhai bidadari gunung lawu yang telah merebah hatiku dalam istana kerinduan.

Sabdaku menggema, menggetar curah tebing grojogan sewu yang perkasa, ikrarku mengangkasa meroket mengguncang langit restu singgasana dewata, karena engkaulah gadisku, mustika yang memancar sinar terang dalam jiwaku, karena engkaulah bidadariku, tautan hati tempatku berkasih, hingga bagai insan yang tiada bernalar jiwaku terguncang hanyalah untuk memikirkan dirimu seorang.

Mungkin inikah cinta, yang telah membuat lelapku gelisah ataukah perasaan sayang yang telah membalut hatiku dengan kerinduan, singga aku terlupa untuk tanggal aku
terlahir, karena yang kuingat hanya parasmu yang senantiasa melekat dalam benakku.

Duhai sayang.
Masihlah terbayang dalam ingatan manakala jemari mengait tangan berayun, menyusuri rindang stroberi dalam tautan hati dan bersantap nikmat sate kelinci
yang begitu lezat, hingga laksana hujan embun yang berjatuh dibening telaga madirda, gelombang pesonamu telah menggetar naluri cintaku untuk seracik dalam buaian asmara.

Maka terkutuklah aku bila mendustakan cintamu, karena sesungguhnya cintaku bukanlah laksana kera kera nakal yang banyak berlari liar dirimba dahan, yang ingin meraih cintamu dengan kecurangan, yang ingin membawamu dengan tiada restunya tuhan.

Malamku bisu tanpa bayangmu, hatiku kelu dikala jauh darimu, hingga laksana curah grojogan sewu yang deras mengalir, niscaya cinta untukmu tiadalah akan pernah bergulir.

Bukanlah curamnya pendakian yang membuat hatiku gentar, bukan pula laknat dari kretek pegat yang membuat cintaku berkarat, namun candi sukuh yang licin dan berkabut telah membuat hatimu tergelincir dan terjatuh kepada cinta yang lain, sehigga apalah dayaku, kiranya waktu indah tiada bergulir lama, belum puas aku menyayang belum genap cinta terikat, harapanku layu dikala kebebasanmu terpetik dalam pinangan.

Duhai sayang?.
Cintaku tiada akan layu walau engkau tiada menjadi
milikku, karena cintaku tiada dapat dihancurkan, karena
sayangku tiada dapat terpisahkan, hingga laksana patung semar yang bersila gagah dikarangpandan, aku akan menantimu walau berjuta tahun akan berlalu.

Kini, tiada kusesal telah bertaut hati padamu, karena sesungguhnya pahatan cintaku tiadalah akan rapuh dan tiada aku lelah untuk menunggu, karena aku yakin hatimupun masihlah berbertaut rindu

– K E P A D A K U - 

Sunday, 29 January 2017

408 - Direguk Pahit Dikenang Manis

Mengapakah Jalan cintaku begitu pedih
Aku terperosok jauh dilembah sunyi.
Sedang engkau bersenang..
pada semaraknya pesta kemilau.

Semula kusangka.

Cintamu tumpah secawan.
Namun rupanya.
Hanya seteguk kecemasan Yang
menggoda pikiran.
Hingga laksana rembulan..
Yang perlahan menguncup ditelan
awan.
Rindangnya cintaku.
hanya berbuah Kedukaan..

Mungkinkah aku salah..

Yang terlalu besar mencinta..
Mungkin juga aku yang berdosa..
Karena terlanjur menyayang.
Namun kejujuran.
haruslah aku ungkapkan.
Bahwa rangkaian hatiku.
Telah menjadi searah dengan cintamu.

Sakit..

Dan mungkin terlalu sakit..
Dikala hidangan cinta bermenu dusta.
Hingga bagai terbang tiada bersayap.
Ataupun lari tiada berkaki..
Aku terjatuh..
Pada rimba cintamu yang berduri..

Entah kemana dokter kucari..

Untuk pengobat rindunya hati.
Sedang cinta yang kuinginkan.
Semakin jauh untuk tergapai.
Hingga bagai cakrawala dimalam kelam
Cahaya cintamu..
Tiada lagi nampak keindahan.

Masihlah terbayang dalam ingatan.

Dikala saat terakhir.
Dengan lembut suara engkau bisikan..
Bahwa apapun yang terjadi.
Diriku tiada akan engkau lupakan.
Hingga bagai insan yang tiada bernalar.
Bathinku melayang..
Jauh meninggi dialam pengharapan.

Tiada kupatah akan harapan.

Untuk sama mendulang kasih sayang.
Tiada kugugur dalam penantian.
Karena cintaku bukanlah bualan.
Namun yang tiada kupahami.
Mengapa cinta laksana mimpi..
Ia datang sekejap..
Lalu tersapu lenyap dikala ayam mulai
terbahak..

Kurenung wajahmu disepanjang waktu.

Kupahat dan kudekap kasih sayang.
disetiap hentakan nadi dari napasku..
Karena sesungguhnya..
Jalan terjal yang kulalui..
Hanyalah untuk sedayung kasih..
Pada keruhnya telaga cintaku..

Lorong hatiku hampa.

Dan selamanya akan menjadi hampa.
Dikala hantaran cintamu.
tiada lagi membawa indah.
Sedang rinduku telah bersulam.
Pada kisah asmara.
yang terlalu manis dalam kenangan.

Duhai sayang..

Hidupku menjadi tiada berjaya..
Jikalau engkau tiada bersama.
Namun cintaku tiada akan layu..
Walau aksara cintamu tiada lagi
bersatu.
Karena sesungguhnya.
engkau pergi dariku.
Namun bukan dari.
- H A T I K U -
-------------------

Thursday, 26 January 2017

407 - DIBAWAH RESTUNYA TUHAN

Ketika harapan tidak lagi tersenyum, bermuram dicelah kerinduan, bermanja dilorong kehampaan, bagai angin yang berhembus, mematah dan memecah butiran kapas yang perlahan terhempas, hatiku melayang dengan berjuta keinginan, namun aku tersesat kepada harapan yang bersimpang dari tujuan.

Inilah diriku yang hanya mampu bermimpi, inilah kidungku yang hanya menepi kedalam nyanyian surgawi dan inilah penderitaanku yang menjadi layu oleh ganasnya murka duniawi.

Maka janganlah cuma melihat cinta dari aksara yang terbaca oleh mata
, karena sesungguhnya hatiku kering laksana ranting patah yang lapuk usia, jiwaku merana laksana kuntum bunga yang hilang aroma, hingga bagai kitab cinta yang telah hilang aksara hatiku terlelap dalam gulana.

Bila saat ini aku masih sendiri bukanlah
karena aku tiada rindu untuk berkasih, namun untuk hati yang dibekali iman, tiadalah akan mencari pasangan yang bukan dari restunya tuhan.

Bukan tiada kuinginkan tilam sutera berpagar berlian, bukan pula tiada kuimpikan istana megah gemerlap bintang, namun bila cinta yang diharapkan hanya seikat padi yang penuh rebah berisi ataupun sekeranjang anggur yang merah dan ranum, niscaya apalah guna bila lelapku dilanda gelisah.

Karena cintaku tiada tumbuh liar seperti ilalang, sayangku tiadalah bersemi pada ranting yang tumbang, namun sesungguhnya senandung surgalah yang menuntun sayap cintaku terbang.

Perih rasanya disaat melihat semua orang bersenang, bermanis
dan bermanja meninggalkan semua kesedihan, mengubur semua kedukaan, namun nasib cintaku tiada seberuntung dengan mereka yang menjadi harum dengan sesama pasangannya.


maka bila suatu ketika kutemukan halal untuk pasangan berkasih sayang,
niscaya cahaya cintaku tiada akan bersinar untuk cinta yang lain, namun hanya kepada satu cinta yang untukku mengadu, hingga takdir menuntun jalanku pada rebahnya usia disenjaku.

Aku berseru kepada sang penguasa langit, aku meratap dan menjerit kepad
a megahnya cakrawala dan aku meminta agar jiwaku tiada dipenuhi kebencian, akan hujatan, akan cemoohan dari orang orang yang tiada mengerti akan ketidak berdayaan.

Yaa. Allah
?..
Kusebut namamu seperti mantra yang melelap tidurku, kupilih jalanmu karena kutau engkau tiada akan menyesatkanku, maka janganlah engkau pertemukan aku dengan hati pendusta yang bersembunyi pada paras mulia, yang membuat layar cintaku menjadi surga,
namun hatiku laksana sekam yang terbakar bara
– N E R A K A
 -

Sunday, 22 January 2017

406 - BINGKAI CINTA

Entah mengapa perasaanku senantiasa melekat pada eloknnya parasmu, hatiku telah dikuasai oleh cintamu, jiwaku telah terbelenggu oleh derasnya aliran sayangmu, sehingga siangku menjadi hampa jikalau engkau tiada, malamku menjadi bisu jikalau tiada melihat senyummu.

Semula aku tiada percaya bahwa cinta akan membuat mata hatiku buta, namun akhirnya kenyataan harus dipertontonkan
, bahwa kebenaran ataupun kebohongan telah menjadi indah untuk aku rasakan.

Cinta itu datang diluar kekuasaan, ia merasuk kedalam hati dengan tiada meminta kunci, ia menikam laksana anak panah yang menghujam tepat sasaran, dan ia membenam kedalam jernihnya telaga kerinduan.

Aku tiada peduli harta ataupun kebahagiaan terbuang, asalkan cinta kita dipersatukan
, karena jiwaku telah terpenjara, kedalam taman surgamu yang indah, karena hatiku telah terikat ,terjerat oleh pesonamu yang memikat.

Telah
aku pahami bahwa tiada sedikit yang mencoba meraih hatimu, cintamu, namun ketegaran dari kokohnya tiang kesetiaan tiadalah akan menjadi tumbang, walau dahsyatnya badai cobaan datang menghadang.

Masihlah terbayang dalam ingatan, betapa kelembutanmu telah memanja diriku, karena engkaulah belahan djiwa dari cahaya cintaku yang tiada pernah sirna.

Penaku menari dilentik jari, merangkai kata diatas kanvas mega, melukis aksara cinta dibingkai nirwana, hingga diriku menjadi sempurna
, ketika cintamu menjadi gemilang dalam rajutan sayang.

Maafkan aku yang pernah bersikap apatis terhadapmu, mengacuhkanmu, dan membiarkan hatimu terhanyut dalam gelombang rindu, namun bila saja engkau menyadari bahwa sesungguhnya jauh didasar qalbu, bahwa akupun telah terpasung oleh pesona
- C I N T A M U -